Tiga orang buta sedang berbincang-bincang tentang gajah. Yang pertama berkata, "Gajah itu ternyata seperti tongkat sapu ya."
Ia berkata demikian karena saat diantar oleh pawang gajah, ia diarahkan ke belakang gajah. Ketika pawang gajah menyuruhnya menyentuh gajah, Ia memegang buntut gajah.
Orang buta kedua membantah dengan keras. Ia mengatakan bahwa gajah itu sebesar pohon kelapa. Ia memegang kaki gajah saat diajak saudaranya ke kebun binatang. Dan ia juga sudah pernah memegang pohon kelapa.
Orang buta ketiga dengan heran berkata, "Loh, itu bukan gajah. Kalian salah. Saya sudah pernah memegang gajah waktu saya bertemu rombongan sirkus." Menurutnya gajah itu berbentuk lembaran seperti kipas. Wajar aja karena saat diminta memegang gajah, ia memegang telinga gajah.
Kisah fiktif di atas menjadi gambaran bahwa ketika seseorang melihat sesuatu secara tidak utuh akan memiliki pandangan yang salah. Mereka tidak melihat gajah secara keseluruhan sehingga memiliki pemahaman yang berbeda tentang gajah.
Keindahan dan kegagahan gajah gagal difahami oleh orang buta karena hanya mengetahui sebagian saja dari tubuh gajah. Seandainya mereka bisa melihat mereka tidak akan saling menyalahkan dan bisa mengagumi binatang gajah.
Perlunya Memiliki Pengetahuan yang Lengkap
Perlunya mempelajari secara keseluruhan agar tidak salah faham adalah hal yang sangat penting. Apalagi jika mengenai agama yang rumit dan kompleks karena mengatur semua elemen kehidupan.
Ketidaklengkapan dalam pemahaman agama menimbulkan karakter fasiq, zindik atau ateis. Ada hakim yang tahu aturan yang benar tetapi dia tidak mau memakai aturan yang benar. Ada juga hakim yang adil tetapi tidak memahami aturan yang benar sehingga salah memutuskan perkara. Ada juga hakim memahami aturan dan memutuskan perkara sesuai dengan aturan, tetapi melakukannya bukan karena ingin mendapat pahala dari Tuhan.
Kasus lain ada yang mengatakan bahwa karena fungsi sholat adalah mengingat Allah maka ia tidak perlu sholat karena sudah membiasakan mengingat Allah. Ada yang sudah rajin sholat tetapi di dalam sholatnya ia lupa untuk mengingat Allah.
Di dalam hadits diceritakan saat malaikat Jibril menyamar menjadi manusia dan pura-pura bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. Tujuan malaikat Jibril bertanya agar manusia tahu bahwa ada empat hal yang harus dipelajari manusia.
Ia menanyakan empat sisi yang harus dipelajari agar memiliki pemahaman yang utuh. Ada manusia-manusia hanya berkutat mempelajari satu dua sisi saja dan tidak mau mempelajari sisi lainnya.
Manusia harus berusaha mempelajari semua sisi sehingga ia bukan hanya sekedar mengetahui aturan, tapi juga menjalankan, dan menikmati aturan tersebut. Kelengkapan pemahaman yang bisa membuat seseorang tidak hanya bisa melihat indahnya aturan agama tetapi juga bisa menikmati agama. Berikut haditsnya:
Dari ‘Umar RA, ia berkata: pada suatu hari kami berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba datang kepada kami seseorang yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak nampak kalau sedang bepergian, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya.Kemudian dia duduk menghadap Nabi SAW, lalu menyandarkan lututnya kepada lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau.Dia bertanya, “Ya Muhammad! Kabarkan kepadaku tentang Islam.” Maka, Rasulullah SAW bersabda, “Islam adalah Anda bersyahadat tiada Tuhan selain Allah dan Muhammadur Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika Anda mampu menempuh jalannya.”Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Kami heran terhadapnya, dia yang bertanya sekaligus membenarkannya. Lelaki itu berkata lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang iman!”Beliau (Nabi SAW) menjawab, “Anda beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan Anda beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”Lelaki itu menjawab, “Engkau benar.” Dia bekata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang ihsan!”Beliau (Nabi SAW) menjawab, “Anda menyembah Allah seolah-olah melihatnya. Jika Anda tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat Anda.”Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang hari Kiamat!” Beliau menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya.”Beliau (Nabi SAW) menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan jika Anda melihat orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala kambing saling bermegah-megahan meninggikan bangunan.”Kemudian lelaki itu pergi. Aku diam sejenak lalu beliau bersabda, “Hai ‘Umar! Tahukah kamu siapa yang bertanya itu?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia Jibril A.S yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR Muslim)
Secara garis besar yang perlu dipelajari dari hadits di atas adalah iman (aqidah), Islam (syariah), Ihsan (akhlak dan mengenal Allah), dan tanda-tanda hari kiamat. Pemahaman yang lengkap atas semua sisi ini akan membuat seseorang bisa melakukan amal dengan benar sekaligus menikmatinya.
Pengetahuan Membuat Seseorang Bertindak dengan Yakin
Sebagai contoh semua orang mengetahui bahwa manusia harus berbuat adil. Jika ada sepuluh orang yang menjabat suatu jabatan yang sama dan ada yang memilih berbuat curang maka ini akan mempengaruhi yang lainnya. Jika yang berbuat curang hanya satu maka mudah bagi sembilan orang lainnya untuk berbuat adil. Tapi bayangkan kondisi sebaliknya.
Jika sembilan orang yang sudah mengetahui syariat tapi melakukan kecurangan untuk mendapat keuntungan dan hanya satu yang berbuat adil, tentu berat bagi satu orang tersebut untuk terus berlaku adil. Namun, jika satu orang tersebut mempelajari iman dan yakin dengan adanya hari pembalasan, ia akan mudah terus berbuat adil.
Pemahamannya tentang iman dan Islam membuatnya yakin ada hari pembalasan yang akan menegakkan keadilan. Hari semua yang berbuat curang akan mendapat balasan dan ia akan selamat dari tuntutan.
Jika seseorang yang berbuat adil tersebut menambah ilmunya dengan ihsan maka ia bukan hanya mampu bertahan dengan keadilan tetapi menikmati berbuat adil. Meskipun seratus orang berbuat curang, ia menikmati berbuat adil karena merasakan bahwa Tuhan yang ia cintai menyenangi perbuatannya.
Semakin Lengkap Semakin Baik
Kelengkapan akan memberikan kenikmatan. Bayangkan jika seseorang makan gado-gado yang penjualnya lupa memberikan garam. Pasti gado-gadonya terasa tidak sedap. Semakin lengkap unsur gado-gado terpenuhi maka semakin sedap rasanya.
Gado-gado yang terdiri dari lontong, sayur, tahu, telur, dan bumbu, meskipun belum lengkap memang sudah lezat. Tapi kalau kelezatannya masih bisa ditambah dengan krupuk atau rempeyek kenapa tidak dilengkapi sekalian.
Ada orang-orang yang mempelajari agama hanya fokus pada syariah saja. Yang penting belajar cara sholat, berdagang, dan aturan fiqih lainnya. Mereka tidak tertarik belajar dzikir untuk dapat memahami ihsan. Makan gado-gado aja maunya lengkap, apa iya belajar agama tidak mau lengkap?
Wallahu a'lam bishshowab
Barakallahu fikk Ustadz
BalasHapus