Ada cerita lucu tentang seorang ustadz yang dikisahkan oleh Gus Baha. Ustadz tersebut mengajarkan doa tolak bala. Jika doa tersebut dibaca, maka pada hari itu pembacanya akan terhindar dari musibah.
Para santri yang mendengar fadhilah doa tolak bala saling memandang. Kondisi ustadznya yang berjalan pincang menunjukkan sepertinya ia baru mendapat musibah sehingga berjalan tertatih-tatih.
Bagaimana mau percaya dengan khasiat doa tolak bala,sedangkan yang mengajarkan doanya saja terkena musibah? Sambil tertawa Gus Baha menceritakan bahwa sang ustadz berdalih bahwa hari itu dia lupa baca tolak bala. Akibatnya ia tidak bisa menghindari musibah yang membuat kakinya pincang.
Seseorang yang mengajak kepada kebaikan dituntut untuk menjadi teladan dalam melakukan kebaikan tersebut. Tentu saja ini adalah hal yang berat. Ini menjadi salah satu sebab beberapa orang malas untuk mengajak kepada kebaikan.
Ada beberapa faktor yang menjadi penghambat secara psikologis seseorang untuk mengajak kepada kebaikan atau memberi nasehat. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Merasa Belum Sanggup untuk Melaksanakannya
Perasaan ini adalah hal yang wajar. perasaan inilah yang membuat Imam Hasan Al-Basri menunda-nunda permintaan para budak untuk berceramah tentang keutamaan memerdekakan para budak.
Akhirnya Imam Hasan Al-Basri menyampaikan khutbah tentang pentingnya memerdekakan budak. Setelah beliau berkhutbah, banyak jamaah yang mendengar khutbahnya memerdekakan budak yang mereka miliki.
Para budak memang telah dimerdekakan. Namun, mereka merasa kecewa karena Imam Hasan Al-Basri tidak dari dulu khutbah tentang memerdekakan budak. Seandainya dilakukan lebih awal, mereka bisa merdeka lebih cepat.
Imam Hasan Al-Basri mengatakan bahwa ia ingin menganjurkan untuk memerdekakan budak. Tetapi ia belum pernah memerdekakan budak. Oleh karena itu ia mengumpulkan uang lebih dahulu untuk membeli budak dan memerdekakannya. Setelah mampu memerdekakan budak, barulah ia mengajak orang lain untuk memerdekakan budak.
Apa yang dilakukan Imam Hasan Al-Basri bisa jadi didasarkan ayat di dalam Al-Quran:
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. "(QS. Ash-Shaff ayat 2-3)
Allah SWT sangat murka kepada orang yang mengajak melakukan sesuatu tetapi ia sendiri tidak mau melakukannya. Tentu ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang bermuka dua. Ia menyuruh tetapi ia sendiri tidak mau melakukannya.
Orang-orang yang mengajak kepada kebaikan namun belum mampu melaksanakan dan sedang berusaha untuk melakukannya tentu tidak terkena tuduhan ayat ini. Selama sedang berusaha untuk melaksanakannya maka ia tetap dikategorikan memiliki kesamaan antara ucapan dan perbuatan. Bukan manusia yang bermuka dua.
Seorang ustadz yang belum bisa membayar zakat tentu boleh saja berceramah tentang pentingnya zakat selama ia berniat akan membayar zakat jika memiliki kekayaan di atas nishab. Apalagi ada orang kaya di hadapan dia yang tidak membayar zakat karena merasa tidak penting. Apakah ustadz tersebut akan membiarkan si kaya jatuh ke dalam dosa karena ia sendiri belum mampu membayar zakat?
Bayangkan jika ada kewajiban semua ustadz harus berangkat haji lebih dahulu sebelum berceramah tentang kewajiban haji. Bisa jadi ada ustadz yang seumur hidupnya tidak mampu naik haji tidak akan pernah berceramah tentang haji.
2. Khawatir Disebut Sok Alim.
Ada yang tidak mau memberi nasehat atau mengajak kepada kebaikan karena merasa tidak nyaman dipandang sok alim atau cari muka. Mereka memilih diam daripada dianggap mencari perhatian dengan berpura-pura baik. Langkah mereka mengajak kepada kebaikan terhenti dengan kata-kata berupa celaan Padahal mereka yang Allah SWT cintai memiliki karakter tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.
Mengajak kepada kebaikan bukanlah perbuatan tercela. Tentu pelakunya tidak perlu merasa malu atau bersalah. Tidak perlu takut dengan risiko celaan karena penyeru kebaikan memang tidak bersalah. Jika penjual narkoba saja berani menanggung risiko, tentu penyeru kebaikan yang berada di jalan kebenaran juga harus berani menanggung risiko.
3. Merasa Diri Belum Bersih dan Tidak Layak Berdakwah
Salah seorang ustadz yang berdakwah di daerah yang cukup jauh pernah mengatakan kepada penulis bahwa sebenarnya dirinya merasa belum siap untuk berdakwah. Ia merasa belum khusyuk dalam beribadah dan merasa belum layak untuk berceramah. Namun, siapa lagi yang mau berdakwah ke daerah-daerah tersebut katanya.
Dengan prinsip “tidak ada rotan akar pun jadi”, para penyeru kebaikan tetap menjalankan aktivitasnya. Mereka menyadari bahwa diri mereka belum bersih dan jauh dari sempurna. Namun, selama setan terus bekerja menyebarkan kebatilan, maka mengingatkan sesama manusia kepada kebaikan juga harus berjalan.
Merasa diri belum bersih adalah hal yang wajar dan memang seharusnya dirasakan. Nabi Muhammad SAW saja dalam sehari beristighfar minimal tujuh puluh kali. Justru orang yang merasa dirinya suci bisa jatuh ke dalam kesombongan yang dilarang di dalam agama.
Mereka yang berceramah dan berdakwah, meskipun posisinya sepertinya adalah mengajak orang lain, mereka sendiri juga sedang berjuang untuk menjadi lebih baik. Mereka juga mengalami jatuh bangun untuk mencapai nilai-nilai yang disampaikan di dalam ceramah-ceramah mereka.
4. Itu Bukan Urusanku. Urusanku juga Banyak.
Setiap manusia memiliki urusan kehidupan yang banyak. Begitu banyaknya sehingga fokus dengan masalahnya masing-masing. Namun di antara manusia ada yang tetap berusaha memikirkan masalah orang lain.
Mereka mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran di sela-sela kerumitan masalah pribadi yang mereka rasakan. Mereka adalah umat yang terbaik. Allah SWT berfirman:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran ayat 110)
Meskipun sambil tertatih-tatih, mereka terus mengajak orang untuk melakukan kebaikan. Itulah sebabnya Allah SWT menjadikan mereka sebagai umat terbaik. Umat yang tidak hanya memikirkan kebaikan dirinya sendiri tetapi juga memikirkan kebaikan orang lain.
5. Saya tidak Mengetahui Caranya.
Menjadi kelompok manusia terbaik yang mengajak kepada kebaikan bukan hanya berada di podium atau mimbar-mimbar. Semua bisa mengajak dengan caranya masing-masing. Meskipun sekedar menyebarkan hadits atau ayat-ayat suci di media sosial. Meskipun sekedar memberikan uang transportasi kepada mereka yang sedang berusaha menyebarkan kebaikan.
Masih banyak lagi sebab-sebab yang membuat seseorang tidak mau mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran. Setan membuat ribuan alasan untuk mencegah manusia saling menasehati dalam kebaikan. Namun, semua alasan harus ditolak. Tetaplah mengajak, meskipun diri sendiri juga belum layak.
Wallahu a’lam bishshowab
Masya Allah Tabarakallah Ustadz
BalasHapus